Minggu, 12 Juni 2011

ISLAM DAN KEBAHAGIAAN

Islam dan Kebahagiaan
Oleh: Fikri Arief Husaen*

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Masalah kebahagiaan dan kesengsaraan adalah masalah kemanusiaan yang paling hakiki. Sebab tujuan manusia tak lain ialah memperoleh kebahagiaan dan menghindari kesengsaraan. Semua ajaran atau agama menjanjikan kebahagiaan bagi para pengikutnya dan mengancam para penentangnya dengan kesengsaraan. Gambaran tentang wujud kebahagiaan atau kesengsaraan itu sangat beranekaragam. Namun semua ajaran dan ideology selalu menegaskan bahwa kebahagiaan yang dijanjikannya atau kesengsaraan yang diancamkannya adalah jenis yang paling sejati dan abadi. Dalam pandangan agama, gambaran tentang wujud kebahagiaan dan kesengsaraan itu dinyatakan dalam konsep-konsep tentang kehidupan di surga dan neraka.
Kitab suci Al-Qur’an menyajikan banyak ilustrasi dan penegasan yang kuat tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalam sebuah firman disebutkan tentang terbaginya manusia kedalam dua kelompok, yaitu yang sengsara dan yang bahagia. Yang sengsara akan tinggal di neraka dan yang bahagia akan tinggal disurga. Kemudian dalam firman lain (AL-Qur’an) Allah menegaskan bahwa, “Orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”

B.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu :
1. Pengertian Kebahagiaan
2.Konsep Kebahagiaan dalam islam

PEMBAHASAN
a.Pengertian Kebahagiaan
Dalam wikipedia-ensiklopedia bebas, arti kebahagiaan adalah suatu keadaan perasaan aman, damai, serta gembira. Dengan kata lain, kebahagiaan melebihi hanya perasaan kegembiraan. Umumnya, kegembiraan sangat berkaitan dengan suatu kejadian atau pencapaian yang khusus, sedangkan kebahagiaan berkaitan dengan keadaan yang lebih umum seperti kesenangan hidup atau kehidupan berumah tangga. Bagaimanapun kedua hal ini sangat berkaitan dengan subjektifitas seseorang. Yang merasakan kebahagiaan adalah diri sendiri karena hanya dia (diri sendiri) yang tahu terhadap perasaannya yang dirasakan.
Pengertian dalam arti luas sangat berbeda-beda, ada yang mengartikan kebahagiaan dari segi materi, seperti uang, rumah mewah, mobil mewah, dsb. Ada pula yang menilai kebahagiaan dari segi kepuasan jiwa seperti kekuasaan, jabatan, pangkat dsb. Dan ada pula yang mengatakan kebahagiaan adalah segalanya selalu terpenuhi, makanan, pakaian, dan kebutuhan lainnya. Namun pada hakekatnya, kebahagiaan yang sesungguhnya terletak pada hati, yaitu merasa senang, tenang, nyaman dan tentram lahir maupun bathin adalah kebahagiaan yang tidak tergantikan oleh suatu apapun.
Kebahagiaan dapat terjadi secara jasmani (lahir) maupun rohani (bathin), atau kedua-duanya. Kebahagiaan jasmani yaitu suatu hal yang dirasakan menyenangkan terutama mengenai badan atau tubuh seseorang, sedangkan kebahagiaan rohani yakni suatu hal yang dirasakan menyenagkan mengenai jiwa atau bathin seseorang.

B.Konsep Kebahagiaan dalam Islam
Kondisi senantiasa bahagia dalam situasi apapun, inilah yang senantiasa dikejar oleh manusia. Manusia pada dasarnya ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tentram, damai dan sejahtera. Sebagaian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagiaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sebab menurutnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan seseorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain. Lantas apakah yang disebut “bahagia” (sa’adah/ happiness)??
Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: "Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan”. Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan” dan "kebahagiaan" itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.
Keselahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu, yakni: keyakinan akan Hak Ta'ala dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.
Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan. Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?
Menurut Al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai “ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, Al-Ghazali menyatakan:
"Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya”, maka rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.
Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pejabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden. Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah. Ma'rifatullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain “Allah" (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri.
Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa "Tiada tuhan selain Allah", dan bersakssi bahwa "Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam." Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan Islam, harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.
Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang bayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya. Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya. Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan. Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar.
Sebuah kata mutiara yang mengandung hikmah didalamnya, sebagai bahan muhasabah an-nafsi agar senantiasa selalu bersyukur terhadap Allah SWT:
Dalam kondisi apa pun, maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih.
"Kalau engkau kaya, senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.
"Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu..."
"Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu..."
Mudah-mudahan Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.
Oleh karena itu sumber kebahagiaan yang dimaksud dalam islam adalah keimanan/ keyakinan. Orang yang beriman senantiasa selalu bersikap bahagia. Faktor penting yang membuat orang-orang yang beriman selalu bahagia dan tenang adalah pemahaman mereka bahwa peristiwa apapun yang terlihat buruk adalah pada hakekatnya baik untuk mereka.
“Jalan yang ditempuh oleh seorang yang beriman adalah aneh karena ada kebaikan dibalik setiap tindakannya dan ini tidak terjadi pada siapapun kecuali pada seseorang yang beriman karena jika mereka merasa mendapatkan kesenangan dia bersyukur kepada Allah SWT, maka terdapat kebaikan dalam sikapnya itu, dan jika dia mendapatkan permasalahan dia menyerahkannya pada Allah SWT (dan bersabar), maka ada kebaikan dalam sikapnya itu. “(Shahih Muslim, Buku 41nomor 20).
Seperti yang dikatakan Nabi Muhammad SAW, bagi setiap orang yang beriman segala sesuatu adalah sember kebaikan. Hal ini hanya terjadi pada orang-orang yang beriman dan merupakan perwujudan dari rahmat Allah SWT kepada mereka. Allah SWT memberikan kabar gembira tentang rahmat-Nya kepada orang-orang yang beriman dalam Al-Qur’an:
“Adapun orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal saleh, maka tuhan mereka memasukan mereka kedalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata”
(QS. Al-Jaatsiyah: 30)
Penyerahan diri orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Membawa mereka lebih dekat kepada-Nya dalam situasi apapun dan menyebabkan mereka selalu merasa tenang dan bahagia.

KESIMPULAN
Setiap orang senantiasa menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Dan memiliki makana dan tujuan yang jelas agar hidupnya terarah. Pada akhirnya terdapat perbedaan antara orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman. Karena memahami bahwa kehidupan ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT, orang-orang yang beriman menempatkan ridho Allah sebagai tujuan hidup mereka.
sumber kebahagiaan yang dimaksud dalam islam adalah keimanan/ keyakinan. Orang yang beriman senantiasa selalu bersikap bahagia. Faktor penting yang membuat orang-orang yang beriman selalu bahagia dan tenang adalah pemahaman mereka bahwa peristiwa apapun yang terlihat buruk adalah pada hakekatnya baik untuk mereka.
Kebahagiaan adalah anugerah yang besar baik didunia maupun diakhirat yang diberikan Allah SWT kepada para hambanya yang saleh sebagai imbalan atas keimanan dan pengabdian mereka yang tulus. Satu-satunya sumber kebahagiaan dan ketenangan dalam diri orang-orang yang beriman adalah ketugahan iman mereka. Oleh karenanya, apabila seseorang ingin merasakan kebahagiaan yang seseungguhnya maka senantiasa yang harus dilakukan adalah dengan keteguhan keimanan yang kuat kepada Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA
Harun yahya, 2007. Jalan Menuju Kebahagiaan. Yogyakarta, Elbanin Media
Ustadz. Abdul Latif, Konsep Kebahagiaan dalam Islam…….
http://Konsepkebahagiaandalamislam/abdullatif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar